Bireuen – Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Almuslim, Dr. Zahriyanti, S.Pd.I., MA, menjadi narasumber dalam kegiatan Pembekalan Mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) FKIP Universitas Almuslim Tahun Akademik 2026/2027, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Universitas Almuslim tersebut merupakan bagian dari rangkaian pembekalan bagi mahasiswa FKIP yang akan melaksanakan PPL di sejumlah lembaga pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Zahriyanti membawakan materi bertajuk “Adab di Atas Ilmu: Pilar Akhlakul Karimah”. Materi tersebut menekankan pentingnya mahasiswa memahami bahwa kemampuan akademik dan keterampilan mengajar harus berjalan beriringan dengan adab, akhlak, integritas dan sikap profesional.
Menurut Dr. Zahriyanti, mahasiswa PPL tidak hanya datang ke sekolah untuk menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga membawa identitas sebagai calon pendidik sekaligus bagian dari keluarga besar Universitas Almuslim.
Karena itu, setiap sikap dan perilaku mahasiswa selama berada di sekolah akan menjadi cerminan pribadi, almamater dan lembaga pendidikan tempat mereka menimba ilmu.
Ia mengingatkan mahasiswa agar menjadikan adab sebagai fondasi utama sebelum mengimplementasikan berbagai ilmu yang telah diperoleh selama menjalani perkuliahan.
Dalam materi tersebut, Dr. Zahriyanti menjelaskan empat pilar adab mahasiswa PPL, yakni adab kepada pimpinan dan staf, adab kepada guru pamong, adab kepada para siswa serta adab kepada lingkungan.
Hormati Pimpinan dan Staf
Pada pilar pertama, mahasiswa PPL diingatkan untuk memiliki adab yang baik kepada pimpinan dan seluruh staf di sekolah.
Mahasiswa diminta memahami dan menghormati hierarki formal yang berlaku di lembaga pendidikan. Selama menjalankan PPL, mahasiswa harus mampu menaati aturan internal sekolah serta menunjukkan sikap sopan kepada seluruh staf tanpa membedakan kedudukan maupun tugas.
Menurutnya, mahasiswa PPL perlu memahami bahwa mereka hadir di sekolah sebagai bagian dari proses pembelajaran dan harus mampu menyesuaikan diri dengan sistem serta tata kelola yang telah berjalan.
Kepatuhan terhadap aturan dan penghormatan kepada pimpinan serta staf menjadi bagian penting dalam membangun hubungan profesional selama pelaksanaan PPL.
Menghormati Guru Pamong
Pilar kedua berkaitan dengan adab mahasiswa kepada guru pamong.
Dr. Zahriyanti menekankan pentingnya sikap tawadhu atau rendah hati. Mahasiswa PPL diminta tidak merasa lebih tahu meskipun telah mendapatkan berbagai teori dan pengetahuan selama berada di bangku kuliah.
Sebaliknya, mahasiswa harus terbuka untuk belajar dari pengalaman guru pamong yang telah lebih dahulu berkecimpung dalam dunia pendidikan.
Mahasiswa juga harus siap menerima kritik, saran dan evaluasi. Masukan dari guru pamong hendaknya dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme mahasiswa.
Sikap rendah hati, terbuka terhadap evaluasi dan kemauan untuk terus belajar dinilai menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk berkembang menjadi pendidik yang baik.
Menjadi Teladan bagi Siswa
Pilar ketiga adalah adab kepada para siswa.
Mahasiswa PPL diharapkan mampu menempatkan diri sebagai “uswatun hasanah”, atau teladan yang baik bagi peserta didik.
Sebagai calon guru, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu menunjukkan perilaku yang dapat dicontoh oleh siswa.
Dr. Zahriyanti juga mengingatkan pentingnya menjaga jarak profesional dalam berinteraksi dengan siswa.
Hubungan antara mahasiswa PPL dan peserta didik harus tetap berada dalam batas-batas yang etis dan profesional. Dalam proses pembelajaran, mahasiswa juga diharapkan mengedepankan pendekatan yang penuh kasih sayang atau rahmah.
“Guru bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberikan contoh melalui sikap dan perilakunya,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi pembekalan tersebut.
Menjaga Adab terhadap Lingkungan
Pilar keempat adalah adab kepada lingkungan.
Mahasiswa PPL diminta mampu menyesuaikan diri dengan ‘urf atau kultur yang berlaku di sekolah tempat mereka ditugaskan.
Setiap sekolah memiliki karakteristik, budaya dan kebiasaan yang berbeda. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan beradaptasi tanpa mengabaikan nilai-nilai etika dan profesionalisme.
Selain itu, mahasiswa juga diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah serta ikut menjaga nama baik almamater selama menjalankan PPL.
Tiga Pilar Integritas Mahasiswa PPL
Selain membahas empat pilar adab, Dr. Zahriyanti juga menyampaikan pentingnya implementasi tiga pilar dalam membentuk mahasiswa PPL yang berintegritas dan berkarakter di Universitas Almuslim.
Ketiga pilar tersebut meliputi anti-kekerasan melalui PPKPT, antinarkoba dan antikorupsi.
Menurutnya, ketiga nilai tersebut harus menjadi bagian dari karakter mahasiswa yang nantinya akan terjun ke lembaga pendidikan.
Pada pilar pertama, mahasiswa diminta ikut menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan, termasuk perundungan atau bullying.
Mahasiswa harus mampu menjaga interaksi yang etis selama berada di sekolah serta tidak melakukan tindakan yang dapat merendahkan, menyakiti atau mengintimidasi peserta didik maupun warga sekolah lainnya.
Dr. Zahriyanti juga mengingatkan pentingnya deteksi dan edukasi terkait kekerasan. Keberadaan Satgas PPKPT di kampus menjadi salah satu bentuk komitmen Universitas Almuslim dalam mencegah dan menangani kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.
Mahasiswa PPL Harus Bebas Narkoba
Pilar kedua adalah antinarkoba.
Mahasiswa PPL sebagai calon pendidik dituntut menjadi pribadi yang mampu memberikan contoh positif kepada generasi muda. Karena itu, mahasiswa harus memiliki komitmen untuk menjauhi penyalahgunaan narkoba.
Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi, deteksi dini dan penguatan kesadaran mahasiswa mengenai bahaya narkoba.
Dalam materi tersebut juga disampaikan pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang bersih dari narkoba melalui gerakan kampus dan sekolah bersinar, keberadaan duta antinarkoba sebaya, serta berbagai langkah pencegahan lainnya.
Mahasiswa juga diingatkan agar berani melaporkan apabila menemukan indikasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pendidikan melalui mekanisme yang telah disediakan.
Integritas dan Antikorupsi
Pilar ketiga adalah antikorupsi.
Dr. Zahriyanti menekankan bahwa integritas harus dibangun sejak mahasiswa masih berada di bangku kuliah dan semakin diperkuat ketika menjalani PPL.
Mahasiswa harus membiasakan diri menerapkan kejujuran dan transparansi dalam setiap aktivitas.
Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui tata kelola yang bersih, pakta integritas PPL, tidak mencontek, menolak gratifikasi serta membangun budaya kejujuran.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi guru yang memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga menjadi pendidik yang memiliki karakter kuat, jujur dan bertanggung jawab.
Rasulullah Memuliakan Guru
Dalam penyampaian materinya, Dr. Zahriyanti juga mengingatkan mahasiswa mengenai kedudukan guru dalam perspektif Islam.
Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak serta memberikan hak kepada orang yang memiliki ilmu.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi mahasiswa bahwa profesi guru memiliki kedudukan yang mulia sekaligus tanggung jawab yang besar.
Karena itu, mahasiswa yang sedang menjalani PPL perlu membangun sikap hormat kepada guru pamong, pimpinan sekolah, tenaga kependidikan dan seluruh warga sekolah.
Menurut Dr. Zahriyanti, menjadi pendidik bukan sekadar memiliki kemampuan menyampaikan materi pelajaran. Seorang pendidik juga harus memiliki akhlak, keteladanan, kepedulian dan integritas.
Membentuk Calon Pendidik Berkarakter
Pembekalan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa FKIP Universitas Almuslim sebelum mereka melaksanakan PPL di sekolah.
Mahasiswa diharapkan mampu menerapkan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di kampus sekaligus menunjukkan sikap sebagai calon pendidik yang profesional.
PPL juga menjadi momentum bagi mahasiswa untuk belajar memahami secara langsung dinamika lingkungan sekolah, membangun komunikasi dengan guru dan siswa, serta mengembangkan kemampuan dalam mengelola proses pembelajaran.
Namun, di balik seluruh kompetensi tersebut, Dr. Zahriyanti menekankan bahwa adab dan karakter tetap menjadi fondasi utama.
Dengan mengedepankan adab, anti-kekerasan, antinarkoba dan antikorupsi, mahasiswa PPL diharapkan mampu menjadi calon pendidik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, integritas dan tanggung jawab sosial.
Melalui pembekalan ini, Universitas Almuslim menunjukkan komitmennya untuk mempersiapkan mahasiswa FKIP menjadi pendidik masa depan yang mampu menjadi “uswatun hasanah”, menjaga nama baik almamater, serta memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan.
