Bireuen – Penampilan drama kolosal yang mengangkat kisah kepahlawanan Laksamana Keumalahayati menjadi salah satu sajian paling memukau dalam kegiatan Pekan Kebudayaan dan Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Almuslim di Aula Creative Center MA Jangka, Rabu (3/6/2026).
Drama yang diperankan oleh mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Indonesia tersebut berhasil menyita perhatian para tamu undangan dan penonton yang memadati aula. Dengan alur cerita yang kuat, kostum yang menarik, serta penghayatan peran yang baik, para mahasiswa sukses menghadirkan kembali semangat perjuangan salah satu tokoh perempuan terbesar dalam sejarah Aceh.
Dalam pementasan tersebut, mahasiswa mengisahkan perjalanan hidup Laksamana Keumalahayati, pahlawan nasional asal Aceh yang dikenal sebagai laksamana laut perempuan pertama di dunia. Drama dimulai dengan gambaran situasi Kesultanan Aceh yang tengah menghadapi ancaman penjajah asing, kemudian berlanjut pada kisah gugurnya suami Keumalahayati dalam medan pertempuran melawan musuh.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik yang membangkitkan semangat juang Keumalahayati untuk membela tanah air dan mempertahankan kedaulatan Aceh. Dalam cerita yang dibawakan mahasiswa, Keumalahayati kemudian membentuk dan memimpin Pasukan Inong Balee, sebuah armada yang beranggotakan ribuan janda para syuhada yang gugur di medan perang.
Penonton tampak larut dalam suasana ketika para pemeran yang berperan sebagai Pasukan Inong Balee memasuki panggung dengan mengenakan pakaian adat Aceh yang anggun dan gagah. Sosok Keumalahayati tampil sebagai pemimpin yang berani, tegas, dan penuh wibawa dalam mengobarkan semangat perjuangan kepada pasukannya.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga menghadirkan tokoh Sultan Aceh beserta para pengawal kerajaan yang menambah kuat nuansa sejarah dalam pementasan tersebut. Sementara itu, sejumlah mahasiswa lainnya berperan sebagai pasukan Belanda yang menjadi lawan dalam berbagai adegan pertempuran yang ditampilkan secara dramatis dan penuh semangat.
Salah satu adegan yang paling menarik perhatian adalah ketika Keumalahayati berhadapan dengan Cornelis de Houtman, pemimpin ekspedisi Belanda yang datang ke Aceh. Dengan penghayatan yang baik dan koreografi yang teratur, mahasiswa berhasil menggambarkan duel bersejarah yang berakhir dengan kemenangan Keumalahayati. Adegan tersebut menjadi klimaks pertunjukan dan langsung disambut gemuruh tepuk tangan dari para penonton.
Sepanjang pementasan berlangsung, suasana aula dipenuhi sorak sorai, tepuk tangan, dan teriakan dukungan dari para mahasiswa dan tamu undangan. Banyak penonton tampak terkesan dengan kemampuan para pemeran dalam membawakan karakter masing-masing serta keberhasilan mereka menghidupkan kembali kisah perjuangan tokoh perempuan legendaris Aceh tersebut.
Selain menjadi hiburan yang edukatif, drama kolosal ini juga memberikan pesan moral tentang keberanian, kepemimpinan, patriotisme, serta peran penting perempuan dalam sejarah perjuangan bangsa. Melalui pementasan tersebut, mahasiswa tidak hanya menampilkan kemampuan seni peran, tetapi juga memperkenalkan kembali nilai-nilai sejarah dan budaya Aceh kepada generasi muda.
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Almuslim, Nia Astuti, M.Pd, mengapresiasi penampilan mahasiswa yang dinilai mampu menggabungkan unsur seni, sastra, sejarah, dan budaya dalam satu pertunjukan yang menarik.
Menurutnya, drama kolosal tersebut merupakan hasil dari proses pembelajaran yang tidak hanya menekankan aspek teori, tetapi juga praktik dan kreativitas mahasiswa dalam menginterpretasikan karya serta peristiwa sejarah ke dalam bentuk pertunjukan yang edukatif.
Penampilan drama kolosal Laksamana Keumalahayati pun menjadi salah satu penampilan yang paling berkesan dalam rangkaian Pekan Kebudayaan dan Kreativitas Mahasiswa tahun ini. Melalui karya tersebut, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Almuslim berhasil menunjukkan bahwa seni pertunjukan dapat menjadi media efektif untuk mengenalkan sejarah, menumbuhkan rasa cinta tanah air, sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya Aceh kepada generasi masa kini.
