Diikuti Mahasiswa Jepang, PGSD FKIP Universitas Almuslim Gelar Uji Coba Tari Ranup Massal

Bireuen – Suasana halaman Kampus Timur Universitas Almuslim, Paya Cut, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, tampak semarak pada Rabu (14/10/2026) pagi. Sebanyak 100 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim mengikuti uji coba atau latihan tari Ranup massal sebagai bagian dari praktik pembelajaran mata kuliah Pendidikan Seni.

Kegiatan tersebut semakin menarik dengan keikutsertaan Komori Akari, seorang mahasiswa asal Jepang yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa di Universitas Almuslim. Kehadirannya tidak hanya menyaksikan kekayaan seni budaya Aceh, tetapi juga terlibat langsung dalam latihan tari Ranup bersama mahasiswa PGSD lainnya.

Dosen pengampu Mata Kuliah Pendidikan Seni pada Prodi PGSD FKIP Universitas Almuslim, Zunuanis, M.Pd., yang akrab disapa Bang Koko, membenarkan pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menjelaskan, latihan tari Ranup massal itu diikuti mahasiswa semester III dan menjadi salah satu bentuk penerapan pembelajaran seni secara langsung.

“Iya, benar. Pagi ini ada 100 mahasiswa PGSD dan ikut bergabung juga satu mahasiswa dari NGU Jepang, Komori Akari. Mereka melaksanakan uji coba atau latihan tari Ranup massal di halaman kampus,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).

Menurut Zunuanis, kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran yang dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep seni secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya melalui kegiatan yang melibatkan gerak, kekompakan, kreativitas, dan penghayatan terhadap seni budaya.

Ia menjelaskan, Mata Kuliah Pendidikan Seni yang diampunya mencakup tiga konsep utama, yakni tari Ranup, tari Ratoh Jaroe, dan drama. Ketiga materi tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa, khususnya dalam mengembangkan kemampuan berekspresi dan memahami seni sebagai bagian dari proses pendidikan.

Melalui praktik tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengenal berbagai bentuk ekspresi seni sekaligus mengembangkan keterampilan yang nantinya dapat diterapkan ketika mereka menjadi pendidik di sekolah dasar.

Diawali Senam Pagi, Dilanjutkan Latihan Tari Ranup

Pelaksanaan latihan tari Ranup massal diawali dengan kegiatan senam rutin setiap pagi yang diikuti mahasiswa PGSD. Setelah senam selesai, mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan berlatih tari Ranup secara bersama-sama di halaman Kampus Timur.

Latihan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memantapkan gerakan, menyesuaikan irama, serta membangun keselarasan antarpeserta. Dalam sebuah pertunjukan tari massal, kekompakan dan ketepatan gerak menjadi unsur penting agar penampilan dapat tersaji dengan baik.

Keterlibatan mahasiswa dalam latihan bersama juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Mahasiswa dituntut untuk aktif mengikuti arahan, menjaga koordinasi dengan peserta lain, serta memahami rangkaian gerakan sebagai satu kesatuan pertunjukan.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pembelajaran seni di perguruan tinggi dapat dikembangkan melalui praktik langsung yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan, membangun kepercayaan diri, dan bekerja sama dalam kelompok.

Mahasiswa Jepang Turut Menjadi Bagian dalam Tari Ranup

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam latihan tersebut adalah keikutsertaan Komori Akari, mahasiswa asal Jepang yang tengah menjalani program pertukaran mahasiswa di Universitas Almuslim.

Komori Akari turut ambil bagian dalam latihan tari Ranup massal, bahkan dipercaya menjadi salah satu penari putri dalam rangkaian tarian tersebut.

Keterlibatannya memberikan warna tersendiri dalam kegiatan pembelajaran seni yang diikuti mahasiswa PGSD. Ia berkesempatan mengenal lebih dekat salah satu kesenian tradisional Aceh melalui pengalaman langsung bersama mahasiswa setempat.

Partisipasi mahasiswa asing dalam kegiatan ini juga menjadi ruang perjumpaan budaya di lingkungan kampus. Melalui kegiatan seni, mahasiswa dari latar belakang berbeda dapat berinteraksi, belajar bersama, serta saling mengenal kekayaan budaya masing-masing.

Tari Ranup sendiri dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional Aceh yang erat kaitannya dengan tradisi penyambutan tamu. Ranup atau sirih memiliki kedudukan penting dalam adat Aceh sebagai simbol penghormatan dan keramahan kepada tamu yang datang.

Dengan mengikuti latihan tersebut, Komori Akari tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas akademik, tetapi juga memperoleh pengalaman budaya melalui keterlibatan langsung dalam praktik kesenian daerah.

Akan Ditampilkan pada Pentas Seni Akhir Semester

Zunuanis menjelaskan, latihan tari Ranup massal tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan praktik di lingkungan kampus. Hasil latihan nantinya akan diimplementasikan dalam kegiatan Pentas Seni PGSD yang diselenggarakan pada setiap akhir semester.

Pentas seni itu menjadi salah satu bentuk evaluasi pembelajaran sekaligus sarana bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan yang telah dipelajari selama mengikuti perkuliahan.

Melalui penampilan secara langsung, mahasiswa dapat memperlihatkan penguasaan materi, kemampuan mengolah gerakan, kekompakan kelompok, serta kesiapan menyajikan sebuah pertunjukan seni di hadapan penonton.

Menurutnya, praktik seperti ini penting dalam pembelajaran Pendidikan Seni karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan secara nyata. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami materi, tetapi juga mampu menerapkannya melalui pertunjukan yang terencana.

Pelaksanaan pentas seni pada akhir semester nantinya juga menjadi bagian dari penilaian praktik mata kuliah yang diampunya. Dengan demikian, proses latihan yang dilakukan sejak awal menjadi tahapan penting untuk mempersiapkan mahasiswa menghadirkan penampilan yang baik.

Di sisi lain, kegiatan tersebut turut memberikan pengalaman bagi calon guru sekolah dasar dalam memahami bagaimana seni dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

Pengalaman mempelajari tari, drama, dan berbagai bentuk ekspresi seni diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa ketika kelak mengembangkan kegiatan pembelajaran yang mendorong kreativitas peserta didik di sekolah.

Dipantau Pimpinan Program Studi

Uji coba atau latihan tari Ranup massal tersebut turut disaksikan Ketua Program Studi PGSD FKIP Universitas Almuslim, Fatma Zuhra, M.Pd., yang didampingi Sekretaris Prodi PGSD FKIP Universitas Almuslim, Erlia Hanum, M.Pd.

Keduanya melihat secara langsung jalannya latihan yang melibatkan mahasiswa semester III tersebut.

Kehadiran pimpinan program studi menjadi bagian dari perhatian terhadap pelaksanaan kegiatan akademik yang berlangsung di lingkungan PGSD, khususnya pembelajaran yang memberikan pengalaman praktik kepada mahasiswa.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa proses pendidikan calon guru tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi akademik, tetapi juga mencakup pengembangan keterampilan, kreativitas, kerja sama, dan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya.

Melalui pembelajaran Pendidikan Seni, mahasiswa PGSD FKIP Universitas Almuslim memperoleh kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan kesenian tradisional Aceh dalam suasana pembelajaran yang partisipatif.

Keikutsertaan Komori Akari dalam latihan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi ruang pertemuan akademik dan budaya bagi mahasiswa dari berbagai negara.

Dengan persiapan yang dilakukan sejak tahap latihan, tari Ranup massal ini diharapkan dapat menjadi salah satu penampilan yang menarik dalam Pentas Seni PGSD pada akhir semester, sekaligus menjadi pengalaman pembelajaran yang bermakna bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi sebagai calon pendidik.