Senam Rutin Prodi PGSD FKIP Universitas Almuslim Terapkan Sistem Absensi Digital Berbasis QR Code

Bireuen – Kegiatan Senam PGSD FIT yang dilaksanakan secara rutin setiap Rabu pagi oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim terus dikembangkan melalui inovasi berbasis teknologi.

Salah satu inovasi yang kini diterapkan adalah penggunaan sistem absensi digital berbasis barcode atau QR Code yang terintegrasi pada ID Card mahasiswa. Penerapan sistem tersebut menjadi bagian dari upaya Prodi PGSD dalam menciptakan pengelolaan kegiatan mahasiswa yang lebih tertib, efektif, terukur, dan terdokumentasi.

Ketua Program Studi PGSD FKIP Universitas Almuslim, Fatma Zuhra, S.Pd., M.Pd., mengatakan penerapan absensi digital tersebut merupakan salah satu bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi dalam pengelolaan kegiatan mahasiswa.

Hal itu disampaikannya pada Rabu pagi, 23 September 2026, di sela-sela pelaksanaan Senam PGSD FIT.

“Penggunaan absensi digital ini merupakan bagian dari inovasi yang kami lakukan dalam kegiatan Senam PGSD FIT. Kami ingin kegiatan yang dilaksanakan secara rutin ini tidak hanya berjalan dengan baik dari sisi pelaksanaannya, tetapi juga memiliki sistem administrasi yang tertib dan terdokumentasi dengan memanfaatkan teknologi,” ujar Fatma.

Menurutnya, kegiatan mahasiswa pada dasarnya dapat menjadi ruang untuk menerapkan berbagai inovasi sederhana yang memberikan manfaat nyata. Digitalisasi absensi menjadi salah satu langkah untuk mengubah proses pencatatan kehadiran yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi lebih sistematis.

Melalui sistem tersebut, setiap mahasiswa memiliki ID Card yang dilengkapi barcode atau QR Code. Kode tersebut menjadi identitas digital yang dapat dipindai ketika mahasiswa mengikuti kegiatan senam.

Data hasil pemindaian kemudian terhubung dengan informasi peserta yang telah tersimpan dalam sistem, termasuk identitas mahasiswa, ID, dan Nomor Pokok Mahasiswa (NPM).

Dengan mekanisme tersebut, proses identifikasi peserta dapat dilakukan secara lebih cepat dan pencatatan kehadiran menjadi lebih terstruktur.

Tidak hanya mencatat mahasiswa yang hadir, sistem tersebut juga dirancang untuk membedakan status kehadiran, seperti HADIR dan TERLAMBAT. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengajukan izin melalui sistem secara digital.

Pengajuan izin tersebut selanjutnya dapat diverifikasi oleh pihak yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan kegiatan. Sistem juga menyediakan pengelolaan kuota izin serta mekanisme pembatalan izin apabila mahasiswa yang sebelumnya mengajukan izin ternyata hadir mengikuti kegiatan.

“Dengan sistem ini, kami ingin administrasi kegiatan menjadi lebih praktis. Data kehadiran dapat langsung tercatat dan tersimpan sehingga panitia tidak harus melakukan pencatatan manual satu per satu. Pada saat yang sama, riwayat kehadiran juga dapat ditelusuri kembali ketika dibutuhkan,” jelas Fatma.

Tidak Sekadar Absensi

Pengembangan sistem digital tersebut tidak berhenti pada fungsi absensi. Sistem yang diterapkan pada Senam PGSD FIT juga dilengkapi dengan sejumlah fitur pendukung untuk membantu pengelolaan kegiatan secara menyeluruh.

Di antaranya database peserta, identifikasi mahasiswa berdasarkan ID dan NPM, pencatatan status kehadiran, pengajuan serta verifikasi izin, pengelolaan kuota izin, generator ID Card berbasis barcode, portal pengecekan data peserta, dokumentasi kegiatan, hingga pengelolaan data dan riwayat setiap pertemuan.

Dengan berbagai fitur tersebut, informasi yang berkaitan dengan kegiatan Senam PGSD FIT dapat dihimpun dalam satu sistem digital.

Konsep tersebut juga memungkinkan data kehadiran tidak hanya digunakan pada saat kegiatan berlangsung, tetapi tersimpan sebagai bagian dari dokumentasi dan administrasi Prodi PGSD.

Data setiap pertemuan dapat dikelola dan ditelusuri kembali sehingga memberikan kemudahan apabila sewaktu-waktu diperlukan untuk kebutuhan administrasi maupun evaluasi kegiatan.

Koordinator Senam PGSD, Rudi July Saputra, M.Pd., mengatakan digitalisasi tersebut merupakan bagian dari pengembangan tata kelola Senam PGSD FIT agar kegiatan rutin tersebut memiliki sistem administrasi yang lebih terorganisasi.

“Senam PGSD FIT bukan hanya kegiatan rutin setiap hari Rabu, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar disiplin, membangun kebersamaan, sekaligus mengenal penerapan teknologi dalam kegiatan sehari-hari. Karena itu, kami mencoba menghadirkan sistem yang dapat membuat pengelolaan peserta dan kehadiran menjadi lebih mudah,” kata Rudi.

Ia menjelaskan, penggunaan QR Code pada ID Card mahasiswa juga diharapkan dapat mengurangi proses administrasi manual yang membutuhkan waktu lebih lama, terutama ketika jumlah mahasiswa yang mengikuti kegiatan cukup banyak.

“Ketika mahasiswa datang, mereka cukup melakukan pemindaian pada ID Card yang sudah dilengkapi QR Code. Data kemudian masuk ke sistem sesuai identitas masing-masing. Dengan begitu, proses absensi menjadi lebih cepat dan data kehadiran setiap pertemuan dapat tersimpan dengan baik,” jelasnya.

Menurut Rudi, sistem tersebut juga memberikan manfaat dalam hal pengelolaan data. Panitia dapat mengetahui data peserta, memantau kehadiran, melakukan verifikasi izin, serta melihat riwayat kegiatan tanpa harus mengumpulkan kembali catatan secara manual.

Dibangun dengan Sistem Terintegrasi

Sistem absensi digital tersebut dirancang tidak hanya sebagai alat pencatat kehadiran, tetapi sebagai bagian dari ekosistem digital untuk mendukung pengelolaan Senam PGSD FIT.

Dalam penerapannya, sistem membedakan akses antara mahasiswa dan panitia. Pemisahan akses tersebut dilakukan agar masing-masing pengguna memperoleh fungsi sesuai dengan perannya.

Mahasiswa dapat menggunakan sistem untuk kebutuhan yang berkaitan dengan identitas dan kehadiran, termasuk pengajuan izin. Sementara panitia memperoleh akses yang lebih luas untuk melakukan pengelolaan data peserta, pencatatan kehadiran, verifikasi izin, serta administrasi kegiatan.

Konsep tersebut memungkinkan pengelolaan kegiatan berlangsung secara lebih terstruktur karena setiap proses memiliki alur yang jelas.

Mulai dari mahasiswa terdaftar sebagai peserta, identitas dicocokkan melalui ID Card, kehadiran dicatat melalui pemindaian QR Code, hingga data tersimpan dalam riwayat pertemuan.

Rudi mengatakan, pengembangan sistem tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan kebutuhan administrasi yang ada di lingkungan kegiatan mahasiswa.

“Kami melihat teknologi bukan hanya digunakan untuk hal-hal yang besar. Untuk kegiatan rutin seperti senam pun sebenarnya banyak proses administrasi yang bisa dibuat lebih sederhana dengan sistem digital. Ini yang sedang kami coba terapkan agar kegiatan menjadi lebih efektif dan data yang dihasilkan juga lebih rapi,” ujarnya.

Dorong Budaya Administrasi yang Lebih Tertib

Bagi Prodi PGSD, penerapan absensi berbasis QR Code juga memiliki arti penting dalam membangun budaya administrasi yang lebih tertib di lingkungan mahasiswa.

Kehadiran mahasiswa tidak lagi sekadar dicatat sebagai daftar hadir, tetapi menjadi data yang dapat dikelola dan digunakan untuk kebutuhan dokumentasi kegiatan.

Digitalisasi juga memberikan kemudahan dalam melakukan penelusuran data karena riwayat kehadiran setiap pertemuan tersimpan dalam sistem.

Hal tersebut dinilai penting mengingat Senam PGSD FIT merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara rutin sehingga membutuhkan pengelolaan data yang konsisten dari waktu ke waktu.

Fatma Zuhra mengatakan pihaknya mendukung pengembangan inovasi tersebut dan berharap sistem yang telah dibangun dapat terus disempurnakan sesuai kebutuhan.

“Kami tentu sangat mendukung inovasi yang dilakukan dalam kegiatan Senam PGSD FIT. Harapannya, sistem ini tidak berhenti pada absensi saja, tetapi dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengelolaan kegiatan mahasiswa dan administrasi di Prodi PGSD,” katanya.

Ia menambahkan, penerapan teknologi dalam kegiatan mahasiswa juga sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi saat ini yang semakin mendorong pemanfaatan sistem digital dalam berbagai bidang.

Menurutnya, mahasiswa perlu dibiasakan dengan lingkungan yang adaptif terhadap teknologi, termasuk dalam kegiatan organisasi, administrasi, maupun aktivitas rutin di lingkungan kampus.

Dirancang oleh Tim Senam PGSD

Inovasi sistem absensi digital tersebut dirancang oleh Ahmad Ridha Firnanda selaku Ketua Senam Rutin Prodi PGSD, di bawah koordinasi Rudi July Saputra, M.Pd. selaku Koordinator Senam PGSD.

Pengembangan dan penerapannya juga mendapat dukungan dari Fatma Zuhra, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Prodi PGSD bersama Tim Senam PGSD FIT.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengelolaan kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan aktivitas fisik, tetapi juga memperhatikan aspek administrasi, dokumentasi, dan pemanfaatan teknologi.

Kegiatan Senam PGSD FIT sendiri dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu dan diikuti mahasiswa Prodi PGSD FKIP Universitas Almuslim.

Selain menjadi sarana menjaga kebugaran, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan mahasiswa serta membangun kedisiplinan dan partisipasi dalam kegiatan bersama.

Dengan diterapkannya sistem absensi berbasis QR Code, kegiatan tersebut kini sekaligus menjadi salah satu ruang penerapan digitalisasi administrasi di lingkungan Prodi PGSD.

Penggunaan teknologi dalam kegiatan rutin tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan kampus, termasuk pada kegiatan mahasiswa yang bersifat rutin dan sederhana.

Ke depan, sistem absensi digital tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan. Pengembangan fitur, pengelolaan database, serta pemanfaatan data secara berkelanjutan dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan tata kelola kegiatan mahasiswa yang semakin efektif, efisien, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.

Dengan demikian, Senam PGSD FIT tidak hanya menjadi agenda rutin setiap Rabu pagi, tetapi juga menjadi ruang penerapan inovasi dan pembelajaran teknologi dalam pengelolaan kegiatan mahasiswa.

Semangat tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas fisik, kebersamaan, kedisiplinan, dan inovasi teknologi dapat berjalan beriringan dalam mendukung terciptanya budaya kegiatan mahasiswa yang lebih tertib dan modern di lingkungan FKIP Universitas Almuslim.