Dua Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Umuslim Ikuti Program Student Exchange ke Jepang

Jepang – Dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim (Umuslim), Nafil Hirzi dan Abdul Hafidz, mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa (Student Exchange) ke Universitas Nagoya Gakuin (Nagoya Gakuin University/NGU), Jepang.

Kedua mahasiswa tersebut saat ini berada di Jepang untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa. Abdul Hafidz tercatat sebagai mahasiswa semester VII, sedangkan Nafil Hirzi merupakan mahasiswa semester V Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Umuslim.

Hal itu dilaporkan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Almuslim, Zuraini, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, keikutsertaan mahasiswa dalam program pertukaran mahasiswa tersebut merupakan bagian dari komitmen program studi dalam mencetak calon guru Bahasa Inggris yang memiliki wawasan global, kompetensi intercultural, serta kesiapan menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.

“Alhamdulillah, kami berbangga karena beberapa mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris saat ini sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa. Ini adalah langkah nyata kami untuk mewujudkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki daya saing global, sehingga profil lulusan dan capaian pembelajaran lulusan dapat diwujudkan,” ujar Zuraini.

Ia menjelaskan, keberangkatan mahasiswa ke Jepang menjadi salah satu bentuk implementasi kerja sama dan pengembangan internasionalisasi Universitas Almuslim, khususnya dalam memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik dan budaya di lingkungan pendidikan tinggi internasional.

Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memperluas wawasan keilmuan, mengenal lingkungan akademik yang berbeda, serta memperoleh pengalaman belajar yang dapat mendukung pengembangan kompetensi mereka sebagai calon pendidik.

Menurut Zuraini, pengalaman akademik di luar negeri memiliki nilai penting bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris. Selain memperkaya pemahaman terhadap bahasa dan budaya, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kemandirian, adaptasi, dan pemahaman terhadap keberagaman.

“Mahasiswa tidak hanya memperoleh pembelajaran melalui ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung, interaksi dengan masyarakat, serta lingkungan akademik yang lebih beragam,” katanya.

Ia menambahkan, pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi intercultural mahasiswa. Kompetensi ini penting bagi calon guru Bahasa Inggris karena pembelajaran bahasa tidak hanya berkaitan dengan penguasaan struktur dan keterampilan berbahasa, tetapi juga pemahaman terhadap budaya, kebiasaan, serta cara berkomunikasi dalam masyarakat yang beragam.

Dekan FKIP Universitas Almuslim, Dr. Sari Rizki, M.Psi., turut menyampaikan apresiasi atas keikutsertaan mahasiswa tersebut. Menurutnya, program pertukaran mahasiswa merupakan kesempatan penting untuk memperluas wawasan sekaligus membentuk karakter dan kompetensi mahasiswa agar lebih siap menghadapi lingkungan pendidikan global.

“Program pertukaran mahasiswa ini bukan hanya tentang belajar di luar negeri, tetapi juga tentang membangun karakter, memperluas wawasan, serta meningkatkan kompetensi sebagai calon pendidik yang profesional dan berdaya saing global,” ujar Dr. Sari Rizki.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh Nafil Hirzi dan Abdul Hafidz selama berada di Jepang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan akademik dan profesional mereka, sekaligus menjadi motivasi bagi mahasiswa FKIP lainnya untuk memanfaatkan peluang pengembangan diri melalui program internasional.

Dengan mengikuti program pertukaran mahasiswa, Nafil Hirzi dan Abdul Hafidz diharapkan dapat mengembangkan perspektif yang lebih luas mengenai pendidikan, sekaligus membangun pengalaman yang mendukung kesiapan mereka menghadapi tantangan profesi guru pada masa mendatang.

Zuraini juga menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program mobilitas internasional sejalan dengan upaya perguruan tinggi dalam memperluas pengalaman belajar mahasiswa melalui kegiatan di luar kampus.

Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembentukan lulusan yang adaptif, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengalaman nyata di lingkungan yang berbeda.

“Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program ini dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa, baik dalam pengembangan akademik, kompetensi profesional, maupun kontribusi mereka nantinya di dunia pendidikan,” harap Zuraini.

Universitas Nagoya Gakuin sendiri merupakan salah satu perguruan tinggi di Jepang yang menjadi bagian dari jejaring kerja sama internasional. Kehadiran mahasiswa Universitas Almuslim dalam program pertukaran mahasiswa tersebut diharapkan turut memperkuat hubungan akademik antara kedua institusi.

Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Umuslim, kesempatan ini juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih luas dan relevan bagi mahasiswa. Program pertukaran mahasiswa tidak hanya memberikan kesempatan untuk mengikuti kegiatan akademik di perguruan tinggi mitra, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami lingkungan sosial dan budaya yang berbeda.

Pengalaman Nafil Hirzi dan Abdul Hafidz di Jepang diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, dan memanfaatkan berbagai peluang pengembangan akademik, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dengan demikian, program pertukaran mahasiswa menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung terwujudnya lulusan Pendidikan Bahasa Inggris yang memiliki kompetensi akademik, wawasan global, kemampuan intercultural, serta kesiapan untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan yang terus berkembang.