Bireuen – Penguatan implementasi Outcome-Based Education (OBE) di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan kurikulum yang tersusun secara sistematis, tetapi juga sistem asesmen yang mampu mengukur ketercapaian kompetensi lulusan secara objektif dan berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus utama yang dibahas dalam Workshop Peningkatan Sistem Asesmen Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) untuk Mendukung Akreditasi Program Studi Berbasis OBE yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim di RKU I, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan yang diikuti Wakil Dekan FKIP, para Ketua Program Studi, serta seluruh dosen di lingkungan FKIP Universitas Almuslim tersebut menghadirkan Kepala Bagian Kurikulum Universitas Almuslim, Fachrurrazi, M.Pd., yang juga merupakan Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Universitas Almuslim, sebagai narasumber.

Dalam kegiatan tersebut, Fachrurrazi memberikan pemaparan mengenai pentingnya membangun sistem asesmen yang selaras dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) sebagai bagian integral dari implementasi kurikulum berbasis OBE.
Menurut Fachrurrazi, penerapan OBE pada dasarnya menempatkan capaian lulusan sebagai orientasi utama dalam keseluruhan proses pendidikan. Karena itu, setiap komponen dalam pembelajaran harus memiliki hubungan yang jelas dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
“Dalam pendekatan OBE, kita tidak hanya melihat apa yang diajarkan kepada mahasiswa, tetapi yang lebih penting adalah apa yang mampu dicapai mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran,” jelasnya.
Ia menegaskan, konsep tersebut membawa konsekuensi bahwa penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara parsial. Profil lulusan, CPL, CPMK, bahan kajian, strategi pembelajaran, hingga sistem asesmen harus disusun secara terintegrasi.
Fachrurrazi menjelaskan bahwa CPL merupakan salah satu komponen penting yang menjadi arah dalam penyelenggaraan pendidikan pada tingkat program studi. CPL harus menggambarkan kemampuan yang diharapkan dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan seluruh proses pendidikan.
Karena itu, perumusan CPL perlu memperhatikan profil lulusan serta mengacu pada ketentuan yang berlaku, termasuk Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti).
“CPL harus menggambarkan kompetensi lulusan secara jelas. Dari CPL inilah kemudian program studi dapat menurunkannya ke dalam CPMK pada masing-masing mata kuliah,” ujarnya.
Dalam paparannya, Fachrurrazi juga menguraikan pentingnya hubungan antara CPL dan CPMK. Setiap mata kuliah harus memberikan kontribusi yang terukur terhadap pencapaian CPL program studi.
Artinya, dosen perlu memahami posisi mata kuliah yang diampu dalam struktur kurikulum dan mengetahui CPL mana saja yang hendak dicapai melalui mata kuliah tersebut.
Selanjutnya, CPMK perlu diterjemahkan ke dalam proses pembelajaran yang sesuai. Metode pembelajaran yang digunakan dosen harus mampu memberikan pengalaman belajar yang mendukung pencapaian kompetensi mahasiswa.
Hal yang sama berlaku terhadap sistem asesmen. Menurut Fachrurrazi, instrumen penilaian tidak boleh hanya berorientasi pada pemberian nilai, tetapi harus mampu memberikan gambaran mengenai tingkat ketercapaian kompetensi mahasiswa.
Dengan demikian, asesmen harus dirancang sejak awal dan diselaraskan dengan capaian pembelajaran yang hendak diukur.
Ia mencontohkan, apabila suatu capaian pembelajaran menuntut mahasiswa memiliki kemampuan menganalisis, maka bentuk asesmen yang diberikan juga harus mampu mengukur kemampuan analisis tersebut. Demikian pula apabila capaian yang ditargetkan berkaitan dengan keterampilan praktik, komunikasi, pemecahan masalah, atau kemampuan lainnya.
“Jangan sampai CPL-nya menuntut kemampuan tertentu, tetapi asesmennya justru hanya mengukur kemampuan mengingat. Di sinilah pentingnya keselarasan antara capaian pembelajaran dengan instrumen asesmen,” kata Fachrurrazi.
Menurutnya, keselarasan tersebut menjadi salah satu kunci agar implementasi OBE tidak berhenti pada dokumen kurikulum, tetapi benar-benar terlihat dalam proses pembelajaran.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sistem asesmen yang baik juga harus mampu menghasilkan data yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi. Hasil asesmen mahasiswa dapat menjadi bahan bagi program studi untuk melihat sejauh mana CPL telah tercapai.
Apabila ditemukan capaian yang belum memenuhi target, maka program studi dapat melakukan tindak lanjut berupa evaluasi dan perbaikan proses pembelajaran.
“Data hasil asesmen harus dapat kita manfaatkan untuk melakukan perbaikan. Jadi asesmen bukan hanya untuk menentukan nilai mahasiswa, tetapi juga menjadi instrumen evaluasi mutu pembelajaran,” jelasnya.
Fachrurrazi juga menekankan pentingnya dokumentasi dalam penerapan sistem asesmen berbasis OBE. Setiap proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi perlu memiliki bukti yang dapat menunjukkan keterkaitan antara CPL, CPMK, pembelajaran, dan asesmen.
Hal tersebut menjadi penting dalam mendukung proses penjaminan mutu internal sekaligus mempersiapkan program studi menghadapi proses akreditasi.
Dalam konteks akreditasi, program studi tidak hanya dituntut memiliki dokumen kurikulum, tetapi juga perlu menunjukkan bahwa kurikulum tersebut benar-benar diimplementasikan dan dievaluasi secara berkelanjutan.
Oleh sebab itu, Fachrurrazi mendorong para dosen untuk memastikan perangkat pembelajaran yang disusun memiliki keterkaitan yang jelas dengan CPL dan CPMK.
Ia juga mengajak program studi untuk melakukan evaluasi secara berkala terhadap relevansi CPL dengan perkembangan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
“Profil lulusan dan CPL harus terus dievaluasi agar tetap relevan. Dunia kerja dan kebutuhan masyarakat berkembang, sehingga kurikulum juga harus mampu beradaptasi,” ujarnya.
Sebagai Kepala Bagian Kurikulum Universitas Almuslim sekaligus dosen PGSD FKIP Universitas Almuslim, Fachrurrazi juga membagikan perspektif mengenai pentingnya sinergi antara pengelolaan kurikulum di tingkat universitas dengan implementasinya di tingkat fakultas dan program studi.
Menurutnya, keberhasilan penerapan OBE membutuhkan pemahaman yang sama dari seluruh unsur akademik. Pimpinan fakultas, program studi, dan dosen harus memiliki persepsi yang sejalan mengenai tujuan dan mekanisme implementasi OBE.
“OBE tidak bisa berjalan hanya karena adanya dokumen. Yang paling penting adalah bagaimana seluruh sivitas akademika memahami dan mengimplementasikannya secara konsisten,” katanya.
Pemaparan Fachrurrazi mendapat perhatian dari peserta workshop. Sesi diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan penyusunan CPL, pemetaan CPL terhadap mata kuliah, penyusunan CPMK, pemilihan metode pembelajaran, hingga penyusunan instrumen asesmen.
Para Ketua Program Studi dan dosen juga berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam menerapkan sistem asesmen berbasis OBE pada masing-masing program studi.
Melalui diskusi tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk menghubungkan konsep OBE dengan kondisi dan kebutuhan pembelajaran yang mereka hadapi dalam kegiatan akademik sehari-hari.
Sementara itu, kegiatan workshop dibuka oleh Wakil Dekan I FKIP Universitas Almuslim, Dr. Silvi Listia Dewi, M.Pd. Dalam pembukaannya, ia menekankan pentingnya penguatan pemahaman dan implementasi OBE dalam rangka meningkatkan mutu akademik serta mendukung pencapaian standar akreditasi program studi.
Workshop ini juga menjadi tindak lanjut dari Sosialisasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Kurikulum Berbasis OBE yang sebelumnya dilaksanakan FKIP Universitas Almuslim secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (4/8/2026).
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan keseriusan FKIP Universitas Almuslim dalam memperkuat implementasi kurikulum berbasis luaran. Penguatan sistem asesmen menjadi bagian penting agar proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan nilai, tetapi juga memastikan lulusan memiliki kompetensi sesuai dengan profil yang telah ditetapkan.
Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan antara CPL, CPMK, pembelajaran, dan asesmen, diharapkan para dosen mampu menerapkan prinsip OBE secara lebih konsisten di dalam proses perkuliahan.
Pada akhirnya, sistem tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya proses pendidikan yang lebih terukur, relevan, dan berorientasi pada mutu lulusan, sekaligus memperkuat kesiapan program studi di lingkungan FKIP Universitas Almuslim dalam menghadapi tuntutan akreditasi berbasis OBE.
