Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Almuslim Gelar Kelas Matematika Ceria di Alue Kuta Jangka

Bireuen – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Almuslim melaksanakan kegiatan Kelas Matematika Ceria sebagai bagian dari Pendidikan Darurat Pascabencana yang terintegrasi dengan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Kegiatan ini berlangsung di Desa Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, pada Selasa (17/12/2025), dan menjadi bentuk implementasi pembelajaran akademik di luar kelas yang berorientasi pada nilai kemanusiaan.

Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa Pendidikan Matematika, di antaranya Ilma Helvina, Putri Wirdatul Rahma, serta tim, yang secara langsung terjun mendampingi anak-anak terdampak bencana. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pendidikan pascabencana sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori perkuliahan dalam konteks nyata di masyarakat.

Kelas Matematika Ceria mengintegrasikan sejumlah mata kuliah inti dalam kurikulum Pendidikan Matematika, yakni Aljabar Elementer, Perkembangan Peserta Didik, Landasan Pendidikan, serta Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD). Integrasi ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep secara teoretis, tetapi juga mampu menerapkannya secara kontekstual dan adaptif sesuai dengan kondisi peserta didik di lapangan.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menghadirkan pembelajaran matematika yang komunikatif, kontekstual, dan menyenangkan. Materi Aljabar Elementer, seperti pola bilangan, hubungan antar simbol, serta pemecahan masalah sederhana, disampaikan melalui permainan edukatif, aktivitas kelompok, dan penggunaan media visual yang ramah anak. Pendekatan ini disesuaikan dengan karakteristik perkembangan kognitif dan emosional anak-anak pascabencana sebagaimana dipelajari dalam mata kuliah Perkembangan Peserta Didik.

Selain penguatan aspek akademik, mahasiswa juga menginternalisasikan nilai-nilai dalam Landasan Pendidikan dengan menempatkan anak sebagai subjek pembelajaran yang harus dilindungi, dihargai, dan didampingi secara humanis. Proses pembelajaran dirancang untuk menciptakan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan, sehingga anak-anak dapat kembali membangun semangat belajar mereka setelah mengalami situasi bencana.

Melalui perspektif Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, kegiatan pembelajaran juga dikaitkan dengan nilai-nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat Desa Alue Kuta, seperti kebersamaan, empati, dan budaya gotong royong. Hal ini dilakukan agar pembelajaran tidak terlepas dari konteks sosial dan budaya setempat, sekaligus menumbuhkan kesadaran sosial mahasiswa sebagai calon pendidik.

Ketua Program Studi Pendidikan Matematika, Rahmi Hayati, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan Kelas Matematika Ceria merupakan implementasi nyata pembelajaran kontekstual berbasis Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

Kelas Matematika Ceria menjadi ruang belajar yang tidak hanya menguatkan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan kepekaan sosial, kepedulian, serta tanggung jawab moral sebagai calon pendidik, terutama dalam situasi darurat pascabencana,” ujarnya.

Antusiasme anak-anak terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka mengikuti pembelajaran dengan penuh semangat, aktif bertanya, serta berani mengemukakan pendapat dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Suasana belajar yang ceria dan interaktif menjadi sarana pemulihan psikososial yang berdampak positif bagi anak-anak terdampak bencana.

Masyarakat setempat pun memberikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa Pendidikan Matematika yang tidak hanya membantu proses pembelajaran, tetapi juga menghadirkan suasana yang suportif dan membangun bagi anak-anak pascabencana. Kehadiran mahasiswa dinilai mampu memberikan motivasi dan semangat baru bagi anak-anak untuk kembali mencintai proses belajar.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Matematika berharap mahasiswa semakin mampu mengintegrasikan teori perkuliahan dengan praktik nyata di lapangan. Kelas Matematika Ceria diharapkan dapat menjadi model kegiatan akademik luar kelas yang adaptif, kontekstual, dan berorientasi pada nilai kemanusiaan dalam mendukung pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya di wilayah terdampak bencana.