Kaprodi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Almuslim Dampingi Mahasiswa Angkatan 2023 Ikuti Sosialisasi SIMTA

Bireuen — Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim, Lissa Zikriana, M.Pd., memberikan pendampingan langsung kepada mahasiswa angkatan 2023 dalam kegiatan Sosialisasi Sistem Informasi dan Manajemen Tugas Akhir (SIMTA) yang digelar di Ruang Rapat Kampus Timur Universitas Almuslim, Rabu (15/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya FKIP Universitas Almuslim dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tahapan tugas akhir sekaligus memperkenalkan sistem layanan akademik berbasis digital yang digunakan untuk mendukung proses penyusunan skripsi.

Sosialisasi diikuti mahasiswa dari lima program studi di lingkungan FKIP Universitas Almuslim. Dari Program Studi Pendidikan Fisika, kegiatan tersebut diikuti oleh empat mahasiswa angkatan 2023 yang didampingi secara langsung oleh Ketua Program Studi Pendidikan Fisika.

Pendampingan tersebut dinilai penting mengingat mahasiswa mulai memasuki tahapan akademik yang berkaitan dengan persiapan tugas akhir. Melalui sosialisasi SIMTA, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan penggunaan sistem secara teknis, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai alur dan prosedur yang harus dilalui selama proses penyusunan skripsi.

Lissa Zikriana, M.Pd., dalam pendampingannya menjelaskan berbagai tahapan yang perlu dipahami mahasiswa, mulai dari pengajuan judul tugas akhir, proses administrasi, penetapan dosen pembimbing, pelaksanaan bimbingan, hingga tahapan seminar proposal dan sidang skripsi.

Mahasiswa juga diarahkan untuk memahami berbagai persyaratan administrasi yang berkaitan dengan penyelesaian tugas akhir. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa mempersiapkan setiap tahapan secara lebih terencana sehingga tidak mengalami kendala administratif ketika memasuki proses penyelesaian studi.

Menurut Lissa, pemahaman terhadap penggunaan SIMTA perlu dimiliki mahasiswa sejak awal. Dengan memahami sistem dan alurnya, mahasiswa akan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai tahapan yang harus dilalui ketika mulai menyusun tugas akhir.

“Mahasiswa perlu memahami alur penggunaan SIMTA sejak awal agar ketika memasuki proses penyusunan skripsi mereka tidak mengalami kesulitan. Sistem ini dirancang untuk mempermudah mahasiswa sekaligus meningkatkan efektivitas proses bimbingan bersama dosen,” ujarnya.

Ia menambahkan, penyusunan tugas akhir bukan hanya berkaitan dengan kemampuan mahasiswa dalam menentukan topik penelitian, menyusun proposal, melakukan penelitian, serta menulis laporan ilmiah. Di dalamnya terdapat sejumlah tahapan administratif yang juga harus dipenuhi sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.

Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kesiapan secara menyeluruh, baik dari sisi akademik maupun administratif.
SIMTA Dorong Layanan Tugas Akhir Lebih Terstruktur

Penggunaan SIMTA menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung layanan akademik di lingkungan perguruan tinggi. Sistem tersebut memungkinkan berbagai tahapan yang berkaitan dengan tugas akhir dikelola dan didokumentasikan secara digital.

Melalui sistem tersebut, mahasiswa dapat mengikuti alur tugas akhir secara lebih terarah. Proses pengajuan judul, bimbingan, hingga tahapan menuju seminar proposal dan sidang skripsi dapat dikelola melalui mekanisme yang telah disediakan.

Bagi program studi, keberadaan sistem digital juga memberikan kemudahan dalam melakukan pemantauan terhadap perkembangan tugas akhir mahasiswa. Setiap tahapan dapat terdokumentasi sehingga proses akademik menjadi lebih tertib dan terorganisasi.

Lissa menyampaikan bahwa transformasi layanan akademik seperti SIMTA perlu diikuti dengan kesiapan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi perlu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sistem layanan akademik. Penguasaan terhadap sistem bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi menjadi bagian dari kesiapan mahasiswa dalam menjalani proses akademik di perguruan tinggi.

“Pemanfaatan sistem digital harus diikuti dengan kedisiplinan mahasiswa dalam mengikuti setiap tahapan yang telah ditetapkan. Mahasiswa harus aktif memantau proses tugas akhirnya dan tidak menunggu ketika sudah mendekati batas waktu,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Pendidikan Fisika juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan tugas akhir.

Pertanyaan mahasiswa mencakup mekanisme pengajuan judul, proses bimbingan dengan dosen pembimbing, penggunaan fitur dalam SIMTA, hingga persyaratan yang harus dipenuhi sebelum mengikuti seminar proposal dan sidang skripsi.

Diskusi tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan sosialisasi karena mahasiswa dapat memperoleh penjelasan secara langsung mengenai prosedur yang harus ditempuh. Dengan demikian, berbagai hal yang sebelumnya belum dipahami dapat diklarifikasi sejak awal.

Lissa juga mendorong mahasiswa untuk tidak menunda persiapan tugas akhir. Menurutnya, persiapan yang dilakukan lebih awal akan memberikan ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk menentukan topik penelitian, melakukan konsultasi, menyusun proposal, serta mempersiapkan berbagai kebutuhan akademik lainnya.

“Kami ingin mahasiswa Pendidikan Fisika memiliki kesiapan yang matang. Tidak hanya memahami substansi penelitian, tetapi juga memahami seluruh prosedur administrasi akademik sehingga proses penyelesaian skripsi dapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu,” katanya.

Ia berharap mahasiswa angkatan 2023 dapat memanfaatkan sosialisasi tersebut sebagai momentum untuk mulai mempersiapkan diri secara lebih serius menghadapi tahapan tugas akhir.

Kesiapan sejak awal, lanjutnya, akan membantu mahasiswa mengelola waktu dengan lebih baik. Mahasiswa juga diharapkan dapat membangun komunikasi yang aktif dengan dosen pembimbing ketika nantinya memasuki proses penyusunan tugas akhir.

Kehadiran Ketua Program Studi Pendidikan Fisika dalam kegiatan sosialisasi juga mencerminkan pentingnya pendampingan program studi terhadap perjalanan akademik mahasiswa.Program studi tidak hanya berperan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam memastikan mahasiswa memperoleh informasi dan pendampingan yang dibutuhkan pada setiap tahapan pendidikan.

Dalam konteks tugas akhir, komunikasi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan program studi menjadi salah satu unsur penting agar proses penyelesaian studi dapat berlangsung secara terarah.

Pendampingan melalui kegiatan sosialisasi SIMTA diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai hak dan kewajiban mereka dalam proses tugas akhir. Mahasiswa juga diharapkan lebih memahami prosedur akademik sehingga dapat menjalankan setiap tahapan secara mandiri dan bertanggung jawab.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa Pendidikan Fisika tampak mengikuti setiap sesi dengan antusias. Mereka menyimak penjelasan yang diberikan serta aktif berdiskusi mengenai berbagai prosedur yang berkaitan dengan penyusunan tugas akhir.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki kebutuhan terhadap informasi yang jelas mengenai mekanisme penyelesaian tugas akhir, terutama dengan diterapkannya sistem layanan akademik berbasis digital.

Sosialisasi SIMTA juga menjadi bagian dari langkah FKIP Universitas Almuslim dalam mendukung transformasi digital di lingkungan akademik.Digitalisasi layanan tugas akhir diharapkan tidak hanya memberikan kemudahan dalam pengelolaan administrasi, tetapi juga menciptakan proses yang lebih tertib, terukur, transparan, dan terdokumentasi.

Bagi mahasiswa, sistem tersebut dapat menjadi sarana untuk mengetahui tahapan yang sedang dijalani dan berbagai proses yang perlu diselesaikan. Sementara bagi dosen dan program studi, sistem dapat membantu mendukung pengelolaan serta pemantauan proses tugas akhir mahasiswa.

Dalam jangka panjang, pemanfaatan sistem informasi akademik diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas layanan pendidikan tinggi. Sistem yang terintegrasi juga dapat membantu menciptakan tata kelola akademik yang lebih efektif dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan perguruan tinggi.

Bagi Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Almuslim, kesiapan mahasiswa menghadapi tugas akhir menjadi bagian penting dari upaya mendukung kelancaran penyelesaian studi.

Melalui pendampingan yang dilakukan, mahasiswa angkatan 2023 diharapkan tidak hanya mengetahui cara menggunakan SIMTA, tetapi juga memahami pentingnya perencanaan, kedisiplinan, komunikasi, dan tanggung jawab selama menjalani proses tugas akhir.

Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap sistem dan prosedur akademik, mahasiswa diharapkan mampu mempersiapkan tugas akhir secara lebih terarah, mulai dari tahap awal hingga penyelesaian skripsi.

Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Almuslim pun terus mendorong terciptanya layanan akademik yang mendukung kebutuhan mahasiswa. Pendampingan terhadap mahasiswa melalui kegiatan sosialisasi menjadi salah satu bentuk komitmen tersebut, sekaligus bagian dari upaya menciptakan proses pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Melalui penerapan SIMTA dan pendampingan yang berkelanjutan, proses penyusunan tugas akhir diharapkan dapat berlangsung lebih efektif, terstruktur, dan terdokumentasi dengan baik. Pada akhirnya, kesiapan mahasiswa dalam mengikuti setiap tahapan tugas akhir diharapkan turut mendukung kelancaran penyelesaian studi serta peningkatan kualitas layanan akademik di lingkungan FKIP Universitas Almuslim.