Bireuen – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Almuslim kembali menunjukkan kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan yang humanis dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik melalui kegiatan Art Terapi Matematika Ramah Anak yang dikemas dalam bentuk Kegiatan Akademik di Luar Kelas (31/12/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang diprakarsai oleh mahasiswa dengan mengedepankan pendekatan pedagogis inovatif dan kontekstual.
Kegiatan tersebut diketuai oleh Zahwa Amanda bersama Tim Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Matematika, serta mendapat pendampingan dan arahan langsung dari Ketua Program Studi Pendidikan Matematika, Rahmi Hayati, M.Pd. Program ini dirancang sebagai respons atas kebutuhan anak-anak terhadap proses pembelajaran matematika yang lebih menyenangkan, bermakna, dan ramah terhadap perkembangan psikologis anak, khususnya di luar lingkungan kelas formal.
Melalui pendekatan art terapi, mahasiswa mengintegrasikan berbagai aktivitas kreatif seperti menggambar, mewarnai, permainan simbolik, serta eksplorasi bentuk dan pola ke dalam pengenalan konsep-konsep matematika dasar. Pendekatan ini bertujuan untuk menghilangkan kesan matematika sebagai mata pelajaran yang kaku dan menakutkan, sekaligus menghadirkan pengalaman belajar yang positif dan membangun.
Matematika dalam Perspektif Sosial dan Budaya
Dalam kerangka Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, kegiatan ini memandang matematika sebagai bagian dari produk budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Anak-anak diajak mengenal konsep matematika melalui konteks yang dekat dengan realitas sosial mereka, seperti pola batik, bentuk rumah adat, permainan tradisional, serta aktivitas sosial di lingkungan sekitar.
Pendekatan ini menempatkan matematika sebagai bahasa sosial yang hidup dan bermakna. “Matematika akan lebih mudah dipahami dan diterima anak ketika dihadirkan melalui konteks sosial dan budaya yang akrab dengan kehidupan mereka,” ungkap Zahwa Amanda selaku ketua pelaksana kegiatan. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghargaan terhadap budaya lokal menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran yang juga berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
Pendidikan Humanistik dan Perkembangan Peserta Didik
Ditinjau dari landasan pendidikan, kegiatan ini berpijak pada prinsip pendidikan humanistik yang menempatkan anak sebagai subjek utama dalam proses belajar. Anak tidak diposisikan sebagai penerima informasi semata, melainkan sebagai individu yang aktif membangun pengetahuan melalui pengalaman, emosi positif, dan kreativitas.
Kegiatan ini juga selaras dengan teori perkembangan peserta didik, khususnya pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, anak-anak belajar secara optimal melalui aktivitas visual, kinestetik, dan interaksi sosial. Art terapi menjadi medium yang efektif untuk membantu anak mengekspresikan perasaan, meningkatkan rasa percaya diri, serta mengurangi kecemasan dan ketakutan terhadap matematika.
Dari perspektif Strategi Belajar Mengajar, kegiatan ini menerapkan pendekatan pembelajaran aktif, kolaboratif, dan reflektif. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang membimbing anak melalui pertanyaan terbuka, diskusi sederhana, serta eksplorasi bersama. Pola interaksi yang terbangun tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep matematika, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi, kerja sama, dan empati.
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika, Rahmi Hayati, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang praktik nyata bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan teori-teori pedagogik yang selama ini dipelajari di bangku kuliah. “Mahasiswa belajar bahwa mengajar bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun relasi, memahami emosi anak, serta menghargai latar belakang sosial dan budaya peserta didik,” ujarnya.
Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) menjadi landasan utama dalam pelaksanaan kegiatan ini. Konsep-konsep matematika diperkenalkan melalui situasi nyata yang dekat dengan kehidupan anak, sehingga proses matematisasi berlangsung secara alami dan bermakna. Anak-anak tidak merasa sedang belajar matematika secara formal, melainkan terlibat dalam aktivitas bermain, berkarya, dan bercerita.
Selain itu, unsur ethnomatematika turut diintegrasikan melalui pemanfaatan kearifan lokal sebagai sumber belajar. Pola, ukuran, simetri, serta konsep bilangan diperkenalkan melalui artefak budaya dan aktivitas tradisional, sehingga matematika tidak terlepas dari identitas dan pengalaman kolektif masyarakat setempat.
Kegiatan Art Terapi Matematika Ramah Anak ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi anak-anak sebagai peserta kegiatan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran transformatif bagi mahasiswa Pendidikan Matematika. Kolaborasi antara HMJ dan Program Studi mencerminkan sinergi akademik yang kuat dalam mewujudkan pengabdian kepada masyarakat yang edukatif, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Pendidikan Matematika membuktikan bahwa matematika dapat dihadirkan sebagai ilmu yang ramah, menyenangkan, dan sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Inisiatif ini menjadi langkah kecil namun bermakna dalam mendorong terwujudnya pendidikan yang lebih berkeadilan, berbudaya, dan berpihak pada perkembangan peserta didik secara utuh.
